Ekonomi US Stabil Sampai Saat Ini Walau Diguncang Banyak Masalah - Pusat Informasi Indragiri Hilir


Jumat, 04 Januari 2019

Ekonomi US Stabil Sampai Saat Ini Walau Diguncang Banyak Masalah

Ekonomi US Stabil Sampai Saat Ini Walau Diguncang Banyak Masalah


Berita Terkini - Berita ekonomi terbaru hari ini yang sedang hot berasal dari negeri Paman Sam. Seperti yang telah banyak diberitakan, kondisi pemerintahan di US saat ini sedang menegang karena demand dari Presiden Trump tentang pembangunan dinding perbatasan. Tuntutan untuk biaya pembangunan dinding ini membuat pemerintahan US sekarang sedang kacau.

Situasi Ekonomi US 

Sekarang terhitung hampir 2 minggu US dalam status government shutdown. Hal ini terjadi karena Trump masih bersikeras untuk membangun dinding yang ia janjikan saat kampanye. Alasan parlemen tidak menyetujui hal ini adalah karena kondisi ekonomi fiskal di US sedang tidak sehat.

Hutang – hutang yang terdaftar di US memang sudah besar dan sepertinya harus ditekan. Jika pembangunan dinding berjalan, budget US akan mengalami tekanan dan bisa memperparah masalah hutang tersebut.

Walaupun terlihat lemah dari segi hutang, kondisi fiskal US sebetulnya bisa dibilang masih stabil walau sepertinya tidak akan lama bertahan. Pada tanggal 3 Januari lalu masalah government shutdown sepertinya membuat meningkatkan jobless claim meningkat. Bagi Anda yang tidak tahu, jobless claim adalah subsidi yang diberikan US pada pengangguran di sana.

Peningkatan ini dapat dilihat dari naiknya angka mencapai 231.000 pada tanggal 29 Desember lalu dan dari trend masih akan meningkat. Angka ini tentu di atas batasan prediksi para ahli ekonomi yaitu sekitar 220.000.

Walaupun begitu efek spending masyarakat sepertinya belum terpengaruh. Banyak ahli yang mengatakan hal ini bisa jadi karena masa liburan yang menyebabkan spending masyarakat masih tinggi.

Dari segi trade, Amerika sepertinya dalam kondisi tegang berdasarkan berita ekonomi terbaru hari ini. Seperti yang Anda tahu, Trump telah mengaktifkan status tarif untuk barang – barang China. Perang dagang dengan China ini menyebabkan banyak perusahaan perdagangan kalang kabut.

Barang – barang China yang terkenal murah sekarang menjadi mahal dan barang yang dijual ke pasar China juga lebih sulit karena tarif. Efek perang dagang ini dilihat dari angka – angka saham yang mulai menurun.

Banyak pihak yang mengatakan jika tidak ada pihak yang mengalah, efek resesi seperti pada tahun 2008 akan terulang kembali. Tentu jika dilihat dari kondisi politik, Trump terkena serangan dari berbagai pihak, jadi China sepertinya hanya akan menunggu pergerakan dari US.

Walaupun mengalami banyak tekanan, sebetulnya kondisi ekonomi US secara keseluruhan tidak bisa dibilang jelek. Walau mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, rate sekitar 2% masih bisa dibilang lumayan.

Pertumbuhan Amerika di pertengahan tahun 2018 yang bisa tinggi sebetulnya karena dorongan The Fed dan potongan pajak dari pemerintah. Kedua dorongan ini tentu tidak seefektif yang diprediksi tapi sebetulnya tetap memiliki nilai positif.


Apakah US Mampu Bertahan?

Nah, pertanyaannya apakah kondisi ekonomi yang masih stabil ini akan bertahan lama? Guncangan dari segi politik dan ekonomi di sana sekarang makin terasa. Banyak orang mengatakan selama efek ekonomi belum muncul ke sektor riil, tidak akan terjadi kepanikan dalam masyarakat. Walaupun begitu, perubahan dari sisi spending masyarakat bisa menjadi tanda bahwa penanganan sudah terlambat.

Jika President Trump masih bersih kukuh meminta pembangunan tembok dan mengakitfkan perang perdagangan, beberapa bulan kedepan kondisi ekonomi US bisa saja buyar. Hal ini tentu tidak hanya merugikan pihak Amerika, tapi juga berbagai negara lain.

Hampir semua negara mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi sekarang ini, jika Amerika jatuh pada krisis, mungkin efek berantai akan menerjang banyak negara lain.

Untungnya keberuntungan ada di sisi Amerika sekarang ini. Kondisi ekonomi yang masih cukup stabil sekarang terjadi karena efek positif kebijakan – kebijakan ekonomi recovery beberapa tahun lalu.

Jika tanpa dorongan kebijakan lama, Amerika mungkin sudah mengalami resesi pada Desember kemarin. Bagi Anda yang lupa, sejak krisis tahun 2008 silam, pihak pemerintah Amerika dan The Fed telah memberlakukan berbagai kebijakan untuk membuat pertumbuhan ekonomi kembali normal.

Beberapa dorongan ini berbentuk pelemahan nilai mata uang dengan penurunan suku bunga. Tentu suku bunga ini tidak bisa ditekan rendah dalam waktu lama, secara bertahan The Fed akan menaikannya sampai sama ratenya dengan saat sebelum krisis.

Nah, masalahnya di situasi sekarang ini The Fed tidak dapat melakukan peningkatan suku bunga karena imbasnya akan berbahaya bagi semua pihak. Tapi jika suku bunga tidak segera dinaikan, cadangan uang di The Fed bisa berkurang lebih cepat.

Karena tidak mungkin diulur lagi, kondisi Amerika tergantung dari kondisi White House. Jika government shutdown masih berlangsung seperti berita ekonomi terbaru hari ini, bisa dipastikan masalah ekonomi akan mulai mempengaruhi sektor riil. Jika sudah begitu, kepanikan masyarakat akan mudah tersulut tentunya.

Apa Langkah yang Harus Diambil?

Sebetulnya permintaan Trump akan dinding perbatasan tidak perlu diwujudkan. Keamanan perbatasan bisa ditingkatkan tanpa struktur fisik seperti dinding. Trump hanya perlu mencanangkan kebijakan imigrasi yang lebih baik. Untuk sisi pertahanan dan keamanan perbatasan, penambahan personel sudah cukup.


Jika masalah dinding ini sudah selesai, Trump bisa mengalihkan perhatiannya ke trade. Perang trade yang Trump laksanakan sekarang sebetulnya tidak menguntungkan siapapun. Peperangan ini sebetulnya hanyalah masalah Trump yang tidak mau kalah dengan pihak China.

Anda tentu sudah tahu bagaimana kekuatan China dari segi ekonomi dan sekarang ini bisa dibilang merupakan negara dengan ekonomi terkuat setelah Amerika.

Kekuatan produksi China memang mampu masuk ke berbagai negara dengan menawarkan harga barang yang lebih terjangkau dan hal ini dipandang negatif oleh Trump. Harga barang yang murah membuat pengusaha di Amerika harus bersaing dengan produk – produk China dan biasanya kalah.

Dominasi barang China ini bisa Anda lihat juga di Indonesia. Tapi sebetulnya ada sisi positif dari hal ini. Harga barang murah tentu menguntungkan para konsumen di sana. Masyarakat biasanya tidak perduli dari mana produk yang mereka beli dibuat. Asalkan kualitasnya baik dan harganya murah, mereka akan membeli barang itu.

Para pengusaha yang merasa tersaingi tentu tidak mau terus kalah, akhirnya produk – produk buatan US mengalami inovasi untuk bersaing dengan barang China. Inovasi – inovasi yang muncul di pasar barang – barang Amerika bisa dibilang adalah berkat adanya kompetisi dari pasar China.

Jika perang dagangan US vs China berhenti, banyak pengusaha eksportir Amerika yang diuntungkan. China sekarang ini mulai bertransisi sebagai pasar terbesar global. Jumlah penduduk dan daya beli di negara ini dari tahun ke tahun makin meningkat, jika para eksportir Amerika mampu masuk ke pasar tersebut, mereka dapat mengeruk keuntungan yang banyak. Sayangnya batasan tarif yang diberlakukan menghalangi kesempatan seperti ini.

Keputusan presiden Trump adalah penentu situasi US kedepannya. Untuk sementara posisi ekonomi Amerika masih kuat jika dibandingkan banyak negara lain. Walaupun begitu kelemahan dan retakan sudah mulai terlihat. Jika retakan ini tidak ditambal, bisa dipastikan kestabilan ekonomi US akan hancur cepat atau lambat. Sekian berita ekonomi terbaru hari ini mengenai kondisi ekonomi US.




Loading...
loading...

Berita Lainnya

Berita Terkini

© Copyright 2019 Infoinhil.com | All Right Reserved