Setelah Dua Bulan Masa Karantina, Tingkat Kehamilan Meningkat? - Pusat Informasi Indragiri Hilir

Sabtu, 13 Juni 2020

Setelah Dua Bulan Masa Karantina, Tingkat Kehamilan Meningkat?

Setelah Dua Bulan Masa Karantina, Tingkat Kehamilan Meningkat?

BERITA INFO INHIL - Dua bulan lalu, sebut saja namanya Mia, belum hamil. Perjumpaan terakhir kami pada bulan Maret. Waktu itu, kegiatan keagamaan.

Pekan lalu, kami bertemu lagi. Dua bulan lebih tidak bertemu. Kali ini, kondisi tubuhnya semakin gemuk. Dia sementara hamil. Gara-gara kondisinya itu, saya mengetahui jika Mia sudah mempunyai pasangan hidup. 

Saya tanyakan kondisinya itu. Menurutnya, dia sedang hamil tujuh minggu. Anak kedua. Kalau diperkirakan, usia kandungannya itu hampir sama dengan masa waktu karantina.

Saya ceritakan hal itu kepada beberapa orang. Saya coba mengungkit pendapat mereka dengan menyatakan jika masa karantina berdampak pada naiknya tingkat kehamilan pada beberapa ibu muda.

Beberapa orang mengamini pernyataan saya sembari memberikan beberapa tambahan kasus di tempat mereka. Setelah lebih dari dua bulan, banyak ibu-ibu muda yang hamil. Ini hanya menurut bebarapa orang.

Kebetulan ada dua orang ibu berada di antara kami. Mereka juga mengakui jika anak-anak gadis mereka sementara hamil. Hamil setelah dua bulan masa karantina. Mendengar itu, kami tertawa. Bahkan seseorang mengatakan jika setelah sembilan bulan, banyak rumah sakit akan dipenuhi oleh ibu-ibu hamil.

Bahkan ada seorang anak perempuan yang baru tamat kelas XII, setara tamat SMA, yang hamil. Pacarnya juga seorang mahasiswa. Mereka asal se-desa.

Memang situasi seperti ini disesalkan. Mereka masih berada di bangku sekolah. Seyogianya, mereka perlu memikirkan masa depan mereka sendiri.

Selain itu, ini juga menunjukkan rencana dalam keluarga (family planning). Hal ini juga disampaikan oleh beberapa orang. Ada pula yang mengatakan tidak adanya family planning, tetapi yang ada hanyalah family planting.

Dalam arti, orang-orang tidak mempunyai rencana dalam keluarga, termasuk soal anak, tetapi yang terjadi adalah cenderung untuk menghasilkan banyak anak dan dalam usia muda, tanpa berpikir tentang situasi mereka.

Hal ini juga terjadi karena situasi. Situasi memaksa banyak orang, termasuk pasangan suami-istri untuk tinggal di rumah dalam jangka waktu yang lama. Situasi untuk menjalin hubungan laiknya sebagai pasangan suami-istri sulit dihindari. Normal untuk pasangan suami-istri.

Terlebih lagi, suami-istri tidak mempunyai pekerjaan lain, selain tinggal di rumah. Sebelum masa karantina, seorang suami atau istri menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Pagi pergi bekerja dan pulang menjelang malam. Umumnya, saat sudah pulang ke rumah sudah lelah. Pulang ke rumah hanya untuk beristirahat.

Belum lagi, mereka yang bekerja tanpa mengenal hari libur. Contohnya, pekerja bangunan. Tiap hari bekerja karena mereka dibayar harian. Bekerja sehari mendapat pendapatan sehari. Melewatkan sehari berarti melewatkan pendapatan untuk keluarga.

Mengejar pendapatan setiap hari guna memenuhi kebutuhan keluarga. Jadinya, waktu untuk pasangan dan keluarga begitu sedikit. Pulang ke rumah hanya untuk beristirahat. 

Namun, masa karantina mengubah situasi. Ruang gerak terbatas. Sepanjang hari tinggal di rumah atau juga terbatas pada wilayah desa semata.

Dengan ini, setiap orang harus tinggal di rumah. Termasuk, pasangan suami-istri. Dengan ini, waktu bersama lebih banyak daripada sebelum masa karantina.

Situasi ini bisa membahasakan pandangan lain tentang situasi di balik masa karantina. Kalau diproyeksi, tingkat kelahiran setelah 8-9 bulan akan meningkat. Ujung-ujungnya, populasi penduduk bisa meningkat.

Memang hasil perkiraan ini sangatlah sempit. Pasalnya, ini hanya bertolak dari situasi dan konteks yang cukup kecil. Hanya dari dua desa.

Namun, bukan tidak mungkin ini juga berlaku di banyak tempat yang mana banyak pasangan suami-istri yang membiarkan waktu mereka tinggal di rumah.

Dari situasi ini bisa membahasakan pengaruh masa karantina. Dalam mana, banyak orang harus tinggal di rumah.

Tidak apa-apa jika rumah dan halaman rumah begitu luas. Ini memungkinkan orang-orang untuk memanfaatkan halaman rumah yang luas itu untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti berkebun atau aktivitas lainnya untuk untuk mengisi waktu.

Tetapi kalau tidak, kondisi seperti rumah yang kecil dan sempit, ruang gerak terbatas di rumah. Sering berada bersama tanpa aktivitas fisik.

Kemarin saya mendengar ulasan dari radio lokal dari salah satu provinsi di mana saya tinggal di Filipina, tentang salah satu dampak dari karantina. Dampaknya pada kehilangan privasi bagi banyak keluarga yang mempunyai rumah yang kecil.

Rumah yang kecil membuka peluang pada aksi kejahatan. Bagaimana pun, privasi antara satu anggota keluarga dengan keluarga yang lain perlu dijaga. Tetapi kalau tidak, banyak orang yang buta mata tanpa relasi hanya untuk melakukan kejahatan seksual.

Apa yang disampaikan lewat radio itu membahasakan juga situasi di beberapa tempat. Dalam mana, di tengah situasi karantina, banyak orang yang mengalami kekerasan pada level rumah tangga. Situasi rumah tidak menjadi nyaman sebagaimana diharapkan.

Makanya, saat provinsi ini berencana mengembalikan status provinsi ke masa karantina ketat, banyak orang yang merasa cemas dan kuatir.

Kecemasan bukan saja soal ekonomi, tetapi situasi tidak nyaman untuk tinggal dalam jangka waktu yang lama di rumah tanpa banyak aktivitas.

Tingkat kehamilan dan yang meningkat setelah dua bulan lebih hanyalah salah satu efek dari masa karantina. Banyak efek yang terjadi. Sekiranya, efek positif menjadi pengalaman dari banyak orang selama masa karantina.

sumber: kompasiana




Loading...
loading...

Berita Lainnya

Berita Terkini

© Copyright 2019 Infoinhil.com | All Right Reserved